Berikut ini adalah COPASAN yang saya dapat dari kompasiana...

Arloren Antoni (kiri) bersama Erianto Anas (kanan)

Beberapa waktu yang lalu saya berada Pakan baru mengurus investasi baru saya di wilayah Riau sekaligus untuk Kopdar dengan EA Setan. Saya menulis apa adanya tentang diskusi saya dalam Kopdar dengan EA. Pukul 10.30 wib saya publis dan langsung berangkat ke Bangkinang, malamnya saat akan menjawab koment tiba tiba sudah di bredel oleh Admin. Saya heran dengan alasan Admin ke inbox saya tentang penghapusan yakni karena artikel agama. Padahal sangat banyak artikel agama tapi admin tidak menghapusnya. Tapi sudahlah. Toh kompasiana bukan milik saya, dan saya mempublish ulang bukanlah untuk memperlarut masalah bredel itu.

*** HAK JAWAB SAYA ****

Dalam sub judul ini, Saya ingin menggunakan hak jawab saya dan membalas koment teman teman yang telah keliru dan salah menilai tulisan saya itu. Kesalahan itu tak perlu terjadi kalau kita benar benar membaca dan tidak bersikap emosian yang mengakibatkan inti materi tulisan sudah bergeser jauh bahkan tak terkait sedikitpun dengan ulasan saya.

Saya menulis bahwa mediayang ada untuk pencarian terhadap Tuhan, entah apapun nama media itu, mau namanya agama, keyakinan, kepercayaan atau apapun nama wadah itu membuat EA, tidak bisa merasa terpuaskan, EA memprotes para pengkotbah agama agama samawi. Kalau Islam sering kena tembak oleh EA, hanyalah karena EA beragama Islam. Agama Kristen juga demikian kok. Para pemimpin agama samawi (Islam, Kristen dan Jahudi) sama-sama membentuk dogma dan kini ada dogma sudah kedaluarsa bahkan lapuk dimakan zaman. Para pemimpin agama-agama samawi terlalu banyak menjadikan manusia lain sebagai Tuhannya.

Tapi tak dapat saya pungkiri, bahwa rekan rekan saya yang Kristen lebih dewasa menyikapi dogma dalam agama mereka, walau Kristen yang kritis jumlahnya juga tidak banyak, mereka bisa memisahkan antara “Aqidah” mereka dengan pengaturan tatacara hidup manusia di dunia yang lebih beradab (syariah kalo dalam Islam). Bahkan menerima perlakuan lebih parah seperti di Bom, disakiti, diusir usir, dimaki maki kapir dan hujatan hujatan lain, nampak mereka lebih dewasa. Coba kalau menimpa agama samawi yang lain, maka teriakan “pembelaan agama”pun akan menggema diseluruh penjuru. Tindakan amarah yang ditunggangi syetan tapi dibungkus manis dan diberi stempel diluarnya dengan stempel “berperang di jalan Tuhan”, maka menjadi halal untuk membunuh manusia lain.

EA juga menyayangkan sikap yang menyuruh memerangi Etnis tertentu. Padahal menurut EA, dunia zaman sekarang sudah sangat berbeda dengan kondisi dunia yang masih primitif saat ayat tsb turun. Pada saat ayat itu turun, memang benar bahwa Etnis “x” tersebut sangat membenci bahkan ingin membunuh Rasul “y”, ayat ini memang sangat relevan dengan kondisi zaman saat itu, dimana etnis “x” tsb sangat bernafsu untuk membunuh Rasul “y”. Tapi…. Hare gene anda melibaskan parang anda pada etnis “x” apalagi mereka sekeluarga lagi duduk santai di teras rumahnya….??? Apa kata dunia…??? Anda bisa dianggap penghuni RS Jiwa yang lepas dari penangkaran.

Jadi apakah salah ayat…?? Atau salah menafsirkan…..??? pilih aja ndiri….. orang lagi duduk duduk santai kok dilibas pake parang…..

Makna ayat tsb sangt relevan di zaman Bar-bar saat itu, hukum identik dengan siapa yang kuat. Jadi siapa yang paling kuat, maka dialah penguasa yang menjalankan syariat (dizaman sekarang kita menamakannya Undang Undang). Jadi sangat wajar, bahkan harus ada ayat untuk mewanti wanti agar ummat bersikap keras, tegas dan tak pandang bulu, semua harus berjuang melawan kesewenang wenangan etnis yang dikutuk dalam kitab suci itu.

Tapi zaman sekarang udah beda. Etnis “x” itu masih ada sampai abad ini (tahun 2012 ini) tapi mereka nggak lagi pengen membunuh Rasul “Y” tsb karena memang Rasul tsb sudah wafat. Apalagi Hukum sudah tertata dengan baik. Aturan aturan di Bumi sudah ada mekanisme yang selalu “mampu” menjawab sesuai apa yang menjadi tuntutan zaman. Jika berubah tuntutan zaman maka direvisi juga UU oleh negara yang bersangkutan sehingga selalu up to date, cocok dengan kondisi yang ada sekarang.

Berbeda dengan aturan agama yang menyangkut urusan antar sesama manusia, Jika aturan tsb sudah basi tapi tetap saja tak boleh berobah padahal zaman sudah menuntut lebih.

Multi tuntutan ummat itu akhirnya membatu, mampet dan nggak jalan gara gara pemahaman usang yang tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman. Ini jelas bukan salah Tuhan atau salah agama tapi lebih kepada keterbatasan pemuka agama zaman ini yang men “Tuhankan” pemuka agama pendahulunya. Setelah Tuhan “jadi jadian” itu dipercaya ummat sebagai Tuhan, lalu iapun mulai “tebar pesona” mengeluarkan fatwa sesuai logikanya primitifnya. Dan jadilah orang orang kritis seperti saya dicap sebagai orang Liberal yang kafir dan sesat. Jujur…. Saya sangat merasakan duka mendalam menulis paragraf ini, terbayang Islam akan masuk museum gara gara kepicikan berpikir para arogan-arogan yang merasa Islam adalah milik pribadi nenek moyangnya

Kekeliruan koment kemaren yang mengatakan bahwa saya meng-kultus-kan inndividu seperti EA, (ini koment rekan saya, Zuragan qripix) padahal dalam tulisan saya, saya malah menentang pengkultusan seperti pengkultusan terhadap para pemuka agama.

Para “pemuka agama” zaman sekarang sudah seperti Tuhan yang tak boleh dibantah. Kitab tafsir karangannya plus alirannya atau fahamnya dianggap memiliki cap stempel yang berasal dari Tuhan. sehingga dia beranggapan ajaran atau aliran dia adalah “sumber kebenaran alam semesta”. Selain mazhab atau aliran dia adalah salah, sesat dan Kafir. tapi pada saat dibuka pendapat lain di forum tulisannya agar bersanding dua atau lebih pendapat yang berbeda, dia tak siap dan tidak senang lalu membredel koment orang untuk menutupi kekurangan aliran atau mazhab dia. Kenapa harus takut bersanding pendapat…???

beberapa aturan-aturan sosio cultural / budaya lama juga sudah Basi (bukan seluruh budaya lama lho), dan disitu sama sekali tidak mengkritisi Tuhan karena Aqidah itu mutlak sehingga tak perlu dipertanyakan lagi.

Dalam tulisan itu saya juga ketengahkan bahwa dalam agama agama Samawi, baik Yahudi, Nasrani dan Islam ada dua unsur pokok dalam setiap agama.

Pertama:

Aqidah atau esensi (inti) dari Dzat Tuhan

(dalam agama Kristen dan Jahudi saya kurang faham istilahnya)

ia tetap, statis, Mutlak, tak berubah, inilah yang tak bisa dibantah karena Dzat Penguasa tunggal di alam raya ini memang ada.

dan

Kedua:

Segala Aturan-aturan agama untuk mengatur tingkah manusia didunia. (dalam Islam dinamai Syariah, di Kristen dan Yahudi saya kurang faham)

Ia bisa saja berubah sesuai kondisi zaman, karena syariat bukanlah Dzat Tuhan, tapi syariat adalah aturan hidup dalam bersosial dengan manusia lain. Persis seperti Undang Undang di setiap negara. Syariat adalah aturan untuk menata kehidupan manusia di dunia (Hablumminannas). Karena mencampur adukkan dua hal inilah akhirnya Tuhan seperti menjadi lemah dan perlu dibela bela dengan cara memaksakan kehendak pada orang lain.

Jika ada sosio kultural dalam masyarakat berkembang, maka aturan atau UU tsb juga harus di update atau di revisi. Contoh pertama: dulu nggak ada segala macam Syariat tentang ratifikasi Nuklir, tapi karena sosio kultural manusia berkembang, maka dibutuhkanlah perubahan ini. Contoh kedua: Dulu juga tak ada syariat atas karya manusia namun sekarang ada pengakuan atas karya yang namanya Hak Patent. Mengatur detail tentang hak-hak penemu dan imbalan uang atas karyanya tsb. Tentu saja dalam agama manapun, khususnya agama samawi, yakni Yahudi, Nasrani dan Islam tak mengatur tentang Hak patent / Hak kekayaan Intelektual (Haki) contoh ketiga: dulu tak dibutuhkan syariat tentang pengolahan hasil tambang, Namun kini sudah ada Freeport Mc Moran Inc, Petronas, Shell, Newmont yang jujur saja, Nabi nabi Tuhan tak mengatur Undang undang / syariah sejauh itu.

Adanya hal ini disebabkan perubahan sosio cultural manusia yang makin mengglobal atau Mendunia. Nggak mungkin donk….. Nabi / Rasulullah menyusun syariat tentang traktat Proliferasi Nuklir…..??? yang sinting siapa sih….???

Penyesuaian syariat (“Aturan” kalo dalam bahasa Indonesia) atas perubahan budaya begini sangat sulit dan beresiko di cap Liberal / Kafir. Padahal “cap seram” begini bukanlah produk atau aturan Tuhan melainkan “fatwa” pribadinya sendiri untuk menakut nakuti ummat agar tetap bisa “dicucuk” hidungnya dan nurut manut mirip keledai (untung masih ada orang kritis yang nggak sudi disamakan dengan keledai). Khusus untuk Islam perubahan perubahan zaman dan “pengaktualan” hukum Islam ditampung dalam wadah yang diberi nama: Qiyass (mempersamakan) dan Ijma’ (kesepakatan) tapi tentu saja tak ada persamaan Syariat tentang Nuklir atau Haki yang selengkap kitab Undang Undang yang ada sekarang.

Yang jadi pertanyaan: sampai kapan aliran atau kelompok mereka ini bisa menahan dan menakuti nakuti ummat dengan pentungan kayu bertulisan:

- sesat,

- kafir,

-virus Liberal sekuler produk Zionist,

- teory konspirasi Yahudi dan AS

Dimana, semua jenis pentungan itu terdengar lucu dan menggelikan…. Supaya dengan slogan slogan tsb ummat jadi takut berpikir kritis. Saya sendiri tak takut di cap Liberal, karena saya faham bahwa “cap” Liberal yang di indentikkan dengan Kafir adalah fatwa sepihak mereka yang merasa pongah bahwa mereka adalah Tuhan di muka Bumi. Yang lebih hebat lagi adalah mereka merasa berbuat “Halal” untuk berbuat anarkhis di muka Bumi dengan cap stempel Tuhan yang dibuatnya sendiri.

Sikap kepala batunya itulah yang akan menghantam Islam dari dalam dan membuat Islam menjadi fosil sejarah karena lapuk dimakan zaman.

*** HIDUP MAKSIMAL HANYA 100 TAHUN, TAK AKAN CUKUP UNTUK MEMBENDUNG KEMAJUAN ZAMAN ***

Dalam sub judul ini saya jadi merenung dalam, Sampai kapan kita mampu “menggertak” ummat dengan slogan slogan kosong itu…??? Umur kita tak akan cukup membendung kemajuan zaman. Sementara kemajuan akan tetap melaju kencang menghantam “kepicikan” cara berpikir. Dan akhirnya agama menjadi barang pajangan di museum. Kalau nanti agama jadi barang pajangan di museum, itu bukan salah agama yang diturunkan Tuhan, tapi salah kita yang picik dan memaksa ummat agar ikut ikutan beku seperti kita.

Dan bagi anda yang bermazhab konvensional, sangat saya harapkan komentnya disini. Mari kita majukan Islam. Jangan hanya berani di lapak sendiri dan kemudian pada saat tau pola pikir anda bisa menghacurkan Islam dimasa yang akan datang, lalu lari dari dsikusi dan tak lagi kembali. Malah bikin postingan sendiri agar kalo saya koment di lapak anda dengan mudah anda hapus koment saya. Itu namanya pengecut….!!! Jika nanti Islam tak mampu membendung hantaman Global, sungguh….!!! Anda harus bertanggung jawab dengan kemunduran Islam ….!!!!

Toh kalaupun kita beda pendapat, biarlah perbedaan pendapat itu terpajang disini. Dan biarlah pembaca yang menilai, pendapat siapa yang ingin ia pakai. Tanpa harus ketakutan dan malu kalau ternyata buah pikir kita kurang cemerlang. Saya sering mendengar kekhawatiran seperti ini:

“….. Mari kita jaga anak anak kita dari arus globalisasi…. “

Bhuah……!!!! Saya muntah dan jijik dengan slogan pendusta begini. Jangan cuma “ngemeng doank”. Kalau memang jujur mau membendung arus global, jalannya hanya satu: bawa anak, isteri dan seluruh komunitas anda ke sebuah pulau terpencil. Tolak semua kemajuan zaman seperti Listrik, Mall, Internet, HP termasuk perguruan tinggi / Universitas, (persis seperti Afganistan dibawah rezim Thaliban yang katanya menerapkan hukum Islam murni sesuai mazhab atau aliran mereka) dan hiduplah dengan cara cara tradisional sebelum era global itu.

Karenanya yang dibutuhkan sesungguhnya adalah pemahaman tentang Dzat Maha Pencipta yang telah disampaikan oleh para Rasul dan Nabi nabi oleh masing masing agama. (Aqidah jika dalam Islam, dalam Kristen dan Jahudi saya kurang faham)

Hal seperti ini juga dialami oleh rekan rekan saya yang Kristen. Tapi Kristen mengalaminya hantaman ini lebih duluan dibanding Islam, yakni sekitar abad 18 dimasa revolusi industri di Eropah. Gereja dulu mendominasi. Memutuskan apapun tentang jemaat Gerejanya, baik urusan Tuhan, Pemerintahan dan sosio cultural lainnya. Dan Ilmuwan Galieo Galilei menjadi tumbal untuk pemisahan atas “Aqidah” dengan “Syariat” ini. Gereja hanya mengurusi agama dan tak boleh mencampuri urusan pemerintahan. Inilah cikal bakal gerakan sekuler di dunia yang menempatkan agama dalam ranah pribadi dan tak boleh mengganggu orang lain tentang agama yang ingin dianut orang lain.

Dalam perkembangan sekuler selanjutnya, agama malah dianggap sebagai kendala besar untuk kemajuan sehingga timbul aliran baru yang beda jauh dari faham sekuler. Mereka menjustifikasi bahwa agama sebagai penghalang kemajuan. Dan terpecah lagi faham sekuler ini yang akhirnya diberi nama gerakan Komunis yang secara total melarang agama dalam socio cultural di tengah tengah masyarakat. (saya tidak akan membahas Marxis dan Lenin secara panjang lebar)

Dan tentu kita tak ingin Islam mengalami hal sama. Kita yang muslim ingin Islam tetap eksis dalam diri pribadi maupun pemerintahan dan sosio cultural lainnya. Namun jika kita tak mampu mere-formasi diri (tanpa me-reformasi Aqidah atau Esensi dzat Tuhan, karena Dzat Tuhan memang tak perlu direformasi), maka, tunggulah, bahwa Islam akan terpuruk persis seperti rekan rekan Kristen yang telah lebih dulu mengalami “gejala alam” ini. di Eropah, mereka harus membayar mahal dengan dipisahkannya antara agama dengan dengan pemerintahan. Akankah kita yang muslim mau hal itu terjadi…???

Aturan aturan dalam Islam (syariat) sudah ada yang ketinggalan zaman (jadi bukan semuanya), tak mungkin lagi dipakai dalam kondisi zaman ini. tapi kelompok ini terlanjur menjadikan Syariat sebagai “Tuhan”. Mereka takut “Tuhan imaginer” ini hilang atau dihilangkan.

Salah satu yang saya contohkan tentang syariat adalah tentang pembuktian adalah dengan sumpah.

Hukum tentang Sumpah yang subjectif ini sangat wajar (bahkan harus), karena zaman dahulu cuma itulah jalan yang ada. Sehingga dipakai cara cara subjektif seperti sumpah.

Namun sekarang sudah ada Tekhnologi. Tiap masalah tak perlu lagi dilihat secara subjektif dengan sumpah yang “tak bisa diukur” kadar pembuktiannya. Sekarang sudah ada tekhnologi yang bisa diurai secara Objektif dibanding cara sumpah sumpahan, baik sumpah pocong, sumpah Palapa Patih Gajah Mada atau sekalian saja pake sumpah serapah.

Dibanding cara Sumpah, kini kita bisa lebih objektif memakai pembuktian DNA, rumus sidik jari dan penggunaan tekhnologi lainnya. Sehingga sangat kentara bahwa syariat harus diperbaharui tanpa memperbaharui aqidah / Esensi dzat Tuhan. Tak mungkin nabi membuat aturan tentang pembuktian dengan test DNA, sidik jari atau kamera CCTV kan…??? Karena memang tekhnologi itu belum ada saat itu. Karena alasan perbedaan zaman jugalah tak mungkin Rasul / Nabi mengatur Undang undang tentang HAKI, UU proliferasi Nuklir dan lain lain. Nabi sendiri untuk menentukan bulan baru dengan memakai Hilal (melihat) dan tidak memakai Hisab (menghitung) dengan alasan yang sama, dikarenakan Nabi dan ummat saat itu tidak memiliki ilmu Hisab tersebut. Hal ini saya ketahui dari seorang Kompasianer dalam artikelnya yang bertema perbedaan antara 1 Ramadhan atau 1 Syawal. Saya juga membaca seorang gubernur Mesir di zaman nabi juga selalu memutuskan sendiri setiap hukum yang akan dia terapkan. Karena kendala jarak yang jauh jika harus selalu meminta fatwa Rasul. (Ingat coy….. jaman dulu pake onta dan nggak ada HP buat menelfon Baginda Rasul. Jadi bukanlah tindakan “haram” dalam penerapan syariat baru.) karena itu pula saya minta, jangan sewenang wenang mencap orang lain Kafir atau Liberal itu sama dengan Kafir. karena definisi Liberal itu sendiri terjadi dualisme makna. Makna yang ditetapkan MUI dalam fatwanya tentang Liberal malah berbeda jauh dengan makna yang dianut oleh orang orang liberal sendiri.

Jika manusia selalu dicap kafir karena membawa pembaharuan, maka yang akan makin terpuruk adalah ajaran Agama itu sendiri (terserah agama samawi mana saja, dan Kristen sudah mengalami di era Galileo Galileo yang membawa angin perubahan). Mereka katanya cinta agamanya tapi mereka tak memakai otak untuk memajukannya. Ada ummat yang lebih menggunakan dengkulnya sehingga otaknya tak lagi berfungsi.

**** kesalahan bukan pada Qur’an tapi dari cara memahami ****

Dalam sub judul ini, Kesalahan menurut saya bukanlah pada Qur’an, tapi pada paradigma ummat yang masih primitif. Ini bukti bahwa ada segelintir ummat Islam menggunakan dengkul doank….. nurut manut macam kerbau dicucuk hidung, para pemegang status Quo ini melarang ummat Islam berpikir sehingga lebih suka otaknya diparkir di dalam parit. Jika sudah berhadapan dengan Qur’an atau hadits maka kemampuan otaknya otomatis rontok. Padahal yang salah bukan Qur’annya tapi cara menafsirkan Qur’an-nya yang fanatic pada guru. Seolah olah hanya dan hanya guru panutannya saja yang boleh menafsirkan Qur’an selaku pemegang “cap stempel” Tuhan di Bumi. Dan inilah yang sangat berbahaya. Keributan di pesantren Syi’ah di Madura baru baru ini adalah gara gara kepicikan seperti ini bahwa hanya kelompoknya sajalah yang paling benar.

Merujuk pada ulama ulama besar penerus Rasulullah itu adalah harus, tapi jangan men-Tuhankan mereka sebagai orang yang tak boleh dikritisi, toh para ulama bukanlah Tuhan kok.

Otak adalah karunia terbesar Tuhan terhadap manusia, tapi para ulama zaman dahulu malah mendoktrin ummat dengan kerasnya. Saya pernah ikut tarekat dan terang terangan guru saya bilang bahwa ngaji padanya dilarang untuk ngaji juga pada yang lain. Saya nurut, tapi diluar tetap saja saya mencari referensi lain. Beliau guru saya tapi beliau bukanlah pusat kebenaran alam semesta apalagi Tuhan saya.

Tuntutan zaman sekarang sudah memaksa ummat islam harus meggunakan otaknya, bukan ototnya lagi, karena zaman sekarang bukan lagi zaman Barbar yang menggunakan pedang atau kekuatan fisik.

Para pemikir Islam yang tak perlu gelar Ulama atau Da’i ini, mereka ingin Islam ini maju, kemudian dihambat dan dijegal dengan cap yang dibuat seolah olah sadis, yakni: merka telah terjangkit “virus Liberal” dan ummat Islam di doktrin bahwa faham Liberal ini adalah: kue yang luarnya manis tapi beracun, Liberal itu dekat dengan kondisi Kafir dan mengkafirkan, padahal Liberal bermakna kebebasan / memaksimalkan akal pikiran yang diberikan Al Khaliq pada kita.

**** Islam sebagai barang pajangan di museum ****

Dalam sub judul ini, saya melihat para pemimpin Islam status quo ini mulai panik melihat ummat sudah banyak yang mbalelo. Mereka tak sadar ummat jadi mbalelo karena saluran ummat udah tersumbat karena wadah Islam yang sekarang tak mampu lagi menjawab tantangan zaman. Kemajuan Islam hanya slogan kosong. Secara pribadi (diluar konteks wawancara dengan EA) saya juga memprediksikan bahwa Monarkhi Arab Saudi juga hanya menunggu waktu untuk rontok dan dikudeta rakyatnya sendiri. Hukum Islam yang keras di afganistan semasa pemerintah Thaliban juga sungguh sangat otoriter. Jadi Syariat Islam dari mazhab mana yang sesungguhnya ingin diterapkan….????

Dan pada mereka dari golongan inilah saya dan EA sangat protes. Dan mengajak kita semua untuk kritis dan memajukan Islam agar jangan sampai Islam nantinya hanya tinggal nama dan jadi barang pajangan di museum.

Pakan baru, 19 desember 2011 (Diperbaharui di Banda aceh, 4 januari 2012)

2 comment:

  1. Nuklir memang tidak diatur khusus dalam syariah, tetapi bukan berarti syariah ketinggalan jaman dan harus diganti, tetapi anda harus merujuknya kepada hal aturan yang lebih umum yang bisa menaunginya di al-quran dan hadits, hal-hal teknis bisa dibuat sendiri selama tidak berbenturan dengan syariah. Tidak ada aturan yang detail menyebut dosa bila membentak kasar pada anak lelaki tetangga yang umur 15 tahun yang berada 100 meter dari rumah Anda, tapi Anda bisa memsaukkannya ke aturan yang lebih umum, misalnya "berbuat baiklah kepada tetangga", jelas kan? Jadi gak perlu mengklaim Quran & Hadits tidak mengatur nuklir, cari hukum yang lebih bersifat umum.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas info yang diberikan

    ReplyDelete

Blog ini tidak memiliki "rel nofollow", silahkan gunakan fasilitas ini dengan bijak. Dengan tidak adanya moderasi komentar, diharapkan untuk berkomentar dengan baik. Hendaklah tidak menulis kata-kata yang berbau pornografi dan SARA. Saya berhak menghapus komentar yang melanggar segala ketentuan saya diatas, harap maklum dan Terima Kasih

 
Top